Shalat menghadap ke Ka’bah?

Kalau Anda ditanya: Mengapa shalat harus menghadap ke Ka’bah? Tentu Anda akan menjawab: Ya karena menghadap ke Ka’bah adalah syarat shalat. Bahkan sebelum seseorang mendirikan shalat, dia diwajibkan mengetahui terlebih dahulu arah kiblat, yaitu Ka’bah. Tidak boleh seseorang shalat mengira-ngira arah kiblat, kecuali telah yakin dan berijtihad sesuai dengan kemampuannya.

Jawaban di atas adalah jawaban standar, dan semua orang akan mengatakan seperti itu. Tetapi ada orang yang lebih dalam lagi jawabannya,

yaitu dengan mengungkapkan hikmah dan falsafahnya. Menghadap ke Ka’bah adalah kecintaan Rasulullah Saw. Sebab beliau dan umat Islam pernah shalat dan bersujud menghadap ke Baitul Maqdis. Masa-masa umat Islam shalat menghadap ke Baitul Maqdis, dirasakan oleh Rasulullah seakan ada tekanan psikologis. Rasulullah Saw merasa kurang “sreg”, sehingga meminta kepada Allah kiranya diberikan arah kiblat yang menjadi ciri dan kepunyaan umat Islam. Maka turunlah perintah kepada Rasulullah Saw untuk menghadap ke Ka’bah. Allah berfirman:

Artinya:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 144)

Ka’bah adalah “Rumah Allah” yang antik, dialah keajaiban dunia.  Ka’bah bukan “tempat tinggal” Allah, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang bodoh, yang menghina umat Islam. Ka’bah juga bukan rumah berhala, seperti perolok-olokan mereka yang buta sejarah. Sungguh betapa naifnya orang yang dengki, lalu mengatakan: Ka’bah dulunya adalah kuil tempat sembahyang orang Hindu (lihat kata mereka di internet, forum ungkapan bebas). Maha Suci Allah dari kebohongan mereka.

Ka’bah adalah simbol persatuan umat Islam, simbol persamaan derajat, dan juga simbol tujuan manusia. Lebih dari itu, para ulama memberitahu kepada kita bahwa Ka’bah itu terletak di tengah-tengah dunia. Penelitian yang disampaikan oleh Dhiyaa’uddin, membuat kita tercengang dan terkagum-kagum, bahwa ketika kita sedang bersujud itu hakikatnya kita sedang menetralisasi segala macam racun, radiasi dan energi-energi negatif yang menjadi sumber penyakit. Penetralisasian itu akan semakin sempurna pada saat sujud menghadap ke Ka’bah. Sebab Makkah adalah pusat bumi di alam semesta. Makkah adalah sentral bumi yang kering. Yang kering akan menyerap yang basah, dan Anda tahu bahwa segala macam toksin, ion negatif dan energi negatif wujudnya adalah basah. Penelitian tersebut semakin jelas dan meyakinkan bahwa menghadap ke Makkah ketika sujud adalah tempat yang paling utama untuk menetralisasi manusia dari hal-hal yang mengganggu pikirannya, membuat relaks. Subhanallah, pengetahuan yang menakjubkan.

Sujud menghadap ke Ka’bah sama artinya mengarahkan seluruh konsentrasi ke satu titik dan fokus kepada satu tujuan. Dan Anda tidak akan bisa fokus, kalau pikiran Anda kacau dan hati Anda resah gelisah. Karena itu, Anda dituntut untuk menciptakan kondisi yang benar-benar syahdu dan menyenangkan di saat sujud. Situasi batin yang senang dan bahagia di saat sujud itulah hakikatnya yang akan menghadirkan keajaiban. Lebih dahsyat lagi manakala wajah diarahkan ke Ka’bah. Bukankah Ka’bah itu adalah tempat yang aman dan menentramkan? Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan Baitullah (Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.” (QS. al-Baqarah:125)

[ Artikel ini dikutip dari buku Mengungkap Keajaiban Sujud ]

Komentar
  1. sulton mengatakan:

    Rasakan Ka’bah adalah symbol atau isyarat jasad manusia. Sesuai dengan perintah Alloh kepada malaikat untuk sujud kepada Adam.Sujud artinya mencium(sayang dan cinta) bukan menyembah, makanya yang terdekat dengan ka’bah mereka thawaf sambil memberi sapaan memuliakan(memuliakan jasadnya sendiri bersama Alloh memuliakan manusia).dan yang paling dekat lagi mencium hajar aswat dan dinding ka’bah (tidak sujud), sedangkan yang jauh mencium tanah dengan menghadap ka’bah. Sujud wujud dari cinta dan sayang Alloh kepada manusia, makanya malaikat pasti bersama orang yang sholat.Yang tidak mau sujud berarti tidak mau Alloh mencintainya dan tidak mau malaikat semua mencium jasadnya sesuai perintah Alloh kepada malaikat dari saat Adam diciptakan. Jadi Alloh memang tidak pernah mendzalimi manusia tapi manusia sendiri yang dzalim pada dirinya sendiri dengan tidak mau sujud (Alloh ijinkan orang tidak mau sujud seperti Alloh ijinkan Iblis berbuat yang diinginkan).

    Kalau berhala pasti dijaga dan tidak boleh disentuh sembarang orang apalagi dicium yang bisa jadi menempelnya keringat bahkan darah.Disinilah bedanya islam dengan selain islam, manusia semua islam fitrahnya dari perintah sholat, tapi ucapan dan perilakunya yang membuat manusia disebut munafik.

    Perintah sholat sebenarnya setiap waktu wajib sholat tapi Rosul dan Alloh tahu ummat manusia tidak akan mampu karena sifat dunia, jadi dijadikan 5 waktu sesuai perubahan waktu.

    Jadi sudah jelas sholat jauh dari perkataan menyembah berhala.

    Manusia yang mau merasakan dan mengakui jasadnya adalah ka’bah itu sendiri, disekeliling dia jadi tanah haram juga yang Alloh lindungi. Seperti Alloh melindungi Ka’bah dan tanah haram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s