Metode Qira’aty

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah Dzat maha pengasih dan penyayang  yang telah memberi kita kemudahan untuk belajar mengaji dan mengkaji ilmu al-Qur’an, sholawat ma’assalam semoga senantiasa tercurah keharibaan baginda rasulallah SAW.

Sejarah perkembangan islam sering di identikkan dengan perkembangan baca tulis al-Qur’an, artinya didaerah dimana islam telah dipeluk oleh masyarakat disitu kemampuan baca tulis al-Qur’an memiliki kemapanan.

Agar hal itu bisa terwujud, tentunya seorang pendidik harus bisa memilih beberapa metode yang tepat untuk membelajarkan al-quran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Diantara beberapa metode tersebut, salah satunya adalah metode Qira’aty. Untuk lebih jelasnya pembahasan tentang metode qira’aty mari kita lihat penjelasan selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

METODE QIRA’ATY

  1. 1.      Pengertian Metode Qira’aty

Metode Qiraati adalah suatu metode membaca Al-Qur’an yang

langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan

qoidah ilmu tajwid

Metode Qiraati merupakan metode yang yang bisa dikatakan

metode membaca Al-Qur’an yang ada di Indonesia, yang terlepas dari

pengaruh Arab. Metode ini pertama kali disusun pada tahun 1963, hanya

saja pada waktu itu buku metode Qiraati belum disusun secra baik.[1]

  1. 2.      Penyusunnya dan Pembelajaran Secara Umum
    1. A.    Penyusunnya

Metode baca al-Qur’an Qira’ati ditemukan KH. Dachlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anak-anak

mempelajari al-Qur’an secara cepat dan mudah.

 

Kiai Dachlan yang mulai mengajar al-Qur’an pada 1963, merasa metode baca al-Qur’an yang ada belum memadai. Misalnya metode Qa’idah Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yang dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan tidak mengenalkan cara baca tartil (jelas dan tepat).

Kiai Dachlan kemudian menerbitkan enam jilid buku Pelajaran Membaca al-Qur’an untuk TK al-Qur’an untuk anak usia 4-6 tahun pada l Juli 1986. Usai merampungkan penyusunannya, KH. Dachlan berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode Qira’ati. Tapi semua orang boleh diajar dengan metode Qira’ati.[2]

Adapun amaliah yang harus dilakukan oleh semua pendidik, diantaranya ;

1. Niat ikhlas dan bersabar Seorang pendidik harus senantiasa memiliki keikhlasan hati dan sepenuh hati dalam mengajarkan Al Qur’an karena ini sudah merupakan tanggung jawab seorang muslim agar mendapatkan great yang baik dihadapan Alloh semata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ; ”Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah yang mau belajar Al Qur’an dan mau mengajarkannya”. Seorang pendidik harus menghilangkan niatan-niatan yang menginginkan keduniawian. Karena Alloh sendiri yang akan memberikan balasan bagi hambanya yang mau berjuang dijalan Nya. Niatan yang salah meskipun hanya kecil akan menjadi penghambat bagi seseorang dalam berdakwah. Sekiranya usaha tersebut di rasa sudah maksimal maka yang terakhir di lakukan adalah bersabar. Bersabar dalam arti tidak berputus asa dengan hasil yang ada. Namun selalu melakukan evaluasi dan peningkatan mutu selanjutnya.

2. Rajin melaksanakan sholat tahajjud Di samping sholat fardlu dengan tertib maka seorang pendidik hendaknya rajin melaksanakan sholat tahajjud. Sikap senantiasa bermunahajat kepada Khaliqnya harus ada pada setiap diri pendidik. Semua persoalan dikembalikan kepada Khaliqnya. Tak bosan-bosan untuk selalu mendoakan para santrinya dan kemudahan-kemudahan untuk menjalankan aktifitas kesehariannya. Seorang guru tidak hanya memberikan pendidikan jasmani semata, namun memiliki ghiroh untuk ; Mengajar, Mendidik, Membimbing dan Mendoakan [4 M]. Suri tauladan yang baik harus senantiasa ditampilkan di hadapan para anak didiknya.

3. Rajin tadarus Tadarus atau baca Al Qur’an hendaknya di lakukan setiap hari dan setiap saat. Banyak waktu yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk selalu tadarus dimanapun berada. Di sekolah tadarus dapat dilakukan dengan kepala sekolah, dengan koordinator cabang, wilayah maupun pusat. Hal ini dapat membantu guru untuk lebih lancar, fasih dan mantap dalam memahami metode Qiro’ati.

 

  1. B.     Pembelajaran Secara Umum
  • Tujuan Metode Qiraati
  • Menjaga dan memelihara kehormatan dan kesucian Al-Quran (dari segi bacaan tartil sesuai dengan kaidah tajwid)
  • Menyebarkan Ilmu Bacaan Al-Quran yang benar dengan cara yang benar
  • Mengingatkan para guru Al-Quran agar berhati-hati dalam mengajarkan Al-Quran
  • Meningkatkan kualitas pendidikan atau pengajaran Al-Quran
    • Target Qiraati

 

Murid mampu membaca Al-Quran secara tartil sesuai dengan Kaidah Tajwid yang telah dicontohkan dan diajarkan Rasulullah Muhammad Saw. secara mutawatir dengan uraian sebagai berikut:

Dalam waktu -/+ 2 tahun anak-anak sudah mampu khatam 30 juz (binnazhar):[3]

  1. Makhraj sebaik mungkin
  2. Mampu membaca Al-Quran dengan bacaan yang bertajwid
  3. Mengenal bacaan gharib dan musykilat (bacaan-bacaan yang asing)
  4. Hafal (faham) ilmu tajwid praktis
  5. Mengerti shalat, bacaan dan praktisnya
  6. Hafal surat-surat pendek minimal sampai Surah Adh-Dhuha
  7. Hafal doa-doa pendek
  8. Mampu menulis Arab dengan baik dan benar
  • Aturan Metode Qiraati
    • Membaca langsung tanpa mengeja
    • Praktek bacaan bertajwid secara mudah dan praktis
    • Susunan materi bertahap dan berkesinambungan
    • Materi disusun dengan “Sistem Modul/Paket”
    • Banyak latihan membaca (drill)
    • Belajar sesuai dengan kesiapan dan kemampuan murid
    • Evaluasi setiap pertemuan
    • Belajar dan mengajar secara “Talaqqi – Musyafahah”
    • Guru Pengajarnya harus ditashih (Ijasah billisani)
    • Prinsip Dasar Metode Qiraati

 

Prinsip bagi Guru:

  • DAKTUN (Tidak-boleh-Menuntun)
  • TIWASGAS (Teliti-Waspada-Tegas)

Prinsip bagi Murid:

  • CBSA+M (Cara-Belajar-Siswa-Aktif dan Mandiri)
  • LCTB (Lancar : Cepat, Tepat dan Benar)
  •  Filosofi Metode Qiraati
    • Sampaikan materi pelajaran secara praktis, simpel dan sederhana (mudah dipahami oleh murid), jangan terlalu rumit dan berbelit-belit (Imam Ghazali)
    • Berikan materi pelajaran secara bertahap, dengan penuh kesabaran (K.H. Arwani Amin, AH.)
    • Jangan mengajarkan yang salah kepada anak-anak, karena mengajarkan yang benar itu mudah (K.H. Dachlan SZ.)

 

  1. 3.      Pola/Langkah-langkah Pengajarannya dan Penerapannya.

Sistem dan Strategi Metode Qiraati

Sistem pengajaran membaca Al-Qur’an Metode Qiraati sebagai

berikut:

  • Langsung membaca huruf-huruf hijaiyah yang berharokat tanpa

mengeja.

  • Langsung praktek bacaan bertajwid dimulai dari yang mudah dan cara

yang mudah.

  • Belajar dengan sistem modul. Mulai dari modul yang rendah sampai

modul tinggi dan diselesaikan secara bertahap.

  • Belajar secara berulang-ulang dari pokok bahasan sampai latihan yang

banyak.

  • Belajar sesuai kemampuan. Guru menaikkan halaman disesuaikan

dengan kemampuan dan kecepatan membaca dengan baik dan benar.

  • Siswa belajar dengan petunjuk guru dan membaca contoh dengan

tepat. Selanjutnya siswa membaca sendiri berdasarkan contoh yang

diberikan guru.

  • Siswa membaca tanpa tuntunan guru.
  • Waktu belajar 60 menit.[4]

 

 

 

 

 

 

Metodologi : Qira`ati

Jam belajar : Pukul 15.30 hingga 16.30 WIB, setiap hari Senin hingga  Sabtu

Tahap

Materi

Keterangan

I Pembukaan (Pengkondisian santri) Persiapan, membaca al-Fatihah dan do’a-doa untuk menuntut ilmu Bersama-sama
II Belajar baca Qur`an dengan metodologi Qira`ati Buku Qira`ati  jilid I-VI Dalam kelompok/

Kelas qira`ati

III Pembiasaan Shalat Praktik shalat Bersama-sama
IV Materi Tambahan Surat-surat pendek (Senin), Do’a (Selasa), Bahasa Arab/Inggris (Rabu), Fiqh (Kamis), Hadits (Jum’at), Kesenian [tari/kaligrafi/ tartil] (Sabtu) Dalam kelompok sesuai umur

V

Penutupan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

  1. A.   Kesimpulan

Metode Qiraati adalah suatu metode membaca Al-Qur’an yang

langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan

qoidah ilmu tajwid.

Tujuan Metode Qiraati

  • Menjaga dan memelihara kehormatan dan kesucian Al-Quran (dari segi bacaan tartil sesuai dengan kaidah tajwid)
  • Menyebarkan Ilmu Bacaan Al-Quran yang benar dengan cara yang benar
  • Mengingatkan para guru Al-Quran agar berhati-hati dalam mengajarkan Al-Quran dan Meningkatkan kualitas pendidikan atau pengajaran Al-Quran

Target Qiraati

Murid mampu membaca Al-Quran secara tartil sesuai dengan Kaidah Tajwid yang telah dicontohkan dan diajarkan Rasulullah Muhammad Saw.

Filosofi Metode Qiraati

Sampaikan materi pelajaran secara praktis, simpel dan sederhana (mudah dipahami oleh murid), jangan terlalu rumit dan berbelit-belit (Imam Ghazali)

  1. B.     Saran

 

Semoga makalah ini dapat membantu kita dalam proses pembelajaran, terutama kami sebagai  pemakalah.  Kami sadari makalah kami ini masih banyak kekurangan untuk itu kami mohon kritik dan saran dari teman-teman semua terutama dosen pembimbing atas kritik dan sarannya kami ucapkan terima kasih

REFERENSI

 

  1. http://qiraati.wordpress.com/2010/10/13/metodologi-aktualisasi-pendidikan-al-qur%E2%80%99an/
  2. http://www.wahdah.or.id/wis/images/stories/Metode%20baca%20tulis%20al-Quran.pdf
  3. http://nun-learning-center.blogspot.com/2009/03/metode-qiraati.html
  4. http://saifulamien.staff.umm.ac.id/2009/09/26/pola-pembelajaran-baca-quran-luar-sekolah-di-kota-malang/

 

Komentar
  1. lukyprihtyan mengatakan:

    referensine koq http kabeh to mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s