Larangan Menikahi Perempuan Musyrik

TUGAS

PEMBELAJARAN QUR’AN HADITS

Tentang

LARANGAN MENIKAHI PEREMPUAN MUSYRIK

 

 

 

 

Oleh:

Rivo medianto           :408.601

Dosen Pembimbing :

Drs. Hasyimi Dt,Rp,Sh,M.si

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI-D)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

1432 H/2010 M

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-NYA penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat beriring salam kita kirimkan untuk Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam kegelapan kepada alam yang terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan ini.

Dalam penulisan makalah ini yang Larangan Menikahi Perempuan Musyrik pemakalah banyak menemui kendala dan kesulitan tetapi dapat juga di selesaikan dengan baik, meskipun masih jauh dari kesempurnaan. pemakalah menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini berlangsung karena dorongan dan bantuan dari berbagai pihak.

Pemakalah menyadari bahwa penulisan dan penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, pemakalah mengharapkan kritikan dan saran demi kesempurnaannya, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Alquran  adalah sumber ajaran umat Islam  yang menceritakan  maka dari itu diwajibkan bagi umat  Islam untuk mempelajari serta  mengamalkannya kemudian untuk mempelajarinya kita telah dimanjakan dengan buku-buku atau kitab-kitab yang telah disusun oleh ulama-ulama terdahulu.

Sesuai dengan argumen di atas kami akan mencoba mempelajari atau menyajikan apa yang kami pelajari dalam bentuk sebuah makalah tentang kisah yang terdapat didalam surat Al-baqarah ayat 221 tentang Larangan Menikahi Perempuan Musyrik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

LARANGAN MENIKAHI PEREMPUAN MUSYRIK

  1. A.    Q. S Al-Baqarah Ayat 221

OŠÏm§9$#`»uH÷q§9$# «!$# Oó¡Î0

Ÿwur (#qßsÅ3Zs? ÏM»x.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym £`ÏB÷sム4 ×ptBV{ur îpoYÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 7px.Ύô³•B öqs9ur öNä3÷Gt6yfôãr& 3 Ÿwur (#qßsÅ3Zè? tûüÏ.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym (#qãZÏB÷sム4 Ӊö7yès9ur í`ÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 78Ύô³•B öqs9ur öNä3t6yfôãr& 3 y7Í´¯»s9ré& tbqããô‰tƒ ’n<Î) ͑$¨Z9$# ( ª!$#ur (#þqããô‰tƒ ’n<Î) Ïp¨Yyfø9$# ÍotÏÿøóyJø9$#ur ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ ( ßûÎiüt7ãƒur ¾ÏmÏG»tƒ#uä Ĩ$¨Y=Ï9 öNßg¯=yès9 tbr㍩.x‹tGtƒ ÇËËÊÈ

Artinya:

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.kamu kawini. Pelarangan ini diadakan  dihadapkan Allah swt kepad sekalian kaum muslimin secara umm tanpa kecuali. Dengan lain perkataan allah swt mwlarang seluruh kaum muslimin nikah drngan wanita0 wanita yang musyrik.

Ulama berbeda pendapat tentang perempuan musyrik yang haram dinikahi itu, sebagian mengatakan bahwa yang haram dinikahi itu mengatakan yang haram dinikahi hanyalah perempuan kafir menyembah berhala, deamikain keterangan qatadah dan selanjutnya ia mengatakan

             Ayat ini diturunkan kepada abu marsyad al-ghinawi ketika dia diutus Rasulullah ke ekah, di sana bertemu dengan seorang perempuan musyrik yang bernama inaq yang telah berkenalan denganuya pada zaman jahiliyah . Perempuan itu memintanya supaya menagwininya, tetapi abu marsad belulm mau mengabulkan [permintaaan itu dan berjanji untuk telebih dahulu nmenanyakan kepada rasulullah saw dimaninah, sesampainya dimadinah ditanyakan nya kepada rasululllah. Mak beardasarkan kasus tersebut turunlah surat al- baqarah ayat 221. [1]

Dan ada pula yang menerangkan bahwa yang dimaksud dengan musrik disini dalah umum, bukan saja musrik mpenyembah berhala tetapi juga ahli kitab, seperti orang yahhudi dan nasrani karena mereka juga termasuk golongan musyrik, seperti firman  allah swt  di dalam al-qur’an, “ orang yahudi berkata uzair anak allah dan orang nasrani berkata isa almasih anak allah”.

Sebagian ada juga yang berpendapat bahwa ayat yang diatas menasahkan ayat dalam surat al- maidah yang menghalalkan menikahi wanita ahli kitab. Demikian keterangan slah satu qaul syafi’I, menurut keterang satu jama’ah keterangan ini lebih kuat. Dan sebagian keterangan ini ditolak denagn alasan bahwa surat al-baqarah diturunkan lebbih dahulu dari surat al-maidah. Maka bagaimana mungkin ayat yang lebih dahulu turunnya dapat menasahkan ayat yang turun belakangan. Jadi teranglah bahwa ayat terdapat dalam suarat al- baqarah tidak dapat menashkan ayat pada surat al- maidah itu.

Sebagian ulama berkata, Allah telah mengahramkan menikahi sekalian perempuan musyrik dan termasuk hli kitab. Kemudian turun ayat didalam surat al-maidah menasahkan ayat ini yakni menghalalkan menikahi perempuan ahli kitab atau paling tidak ayat ini mentkhsiskan ayat al-baqarah dengan arti dikecualikan perampuan ahli kitab demikian yang telah diceritakan dari ibnu abbas, malik supian bin syaid, Abdurrahman bin umar, da auza’i  begitu juga qaul dari utsman ibnu affan, thalhah, zabir, syaid bin musayyad, zaid bin zubair, hasan, thawuz, ikrimah, syakbi dan dahhak sebagaimana yang telah diceritakan nahaz Dari qurtubi telah menambahkan ibnu munzir terhadap perkataan umar ibnu al-khattab yaitu tidak dapat dibenarkan perkataan orang yang mengharamkan itu.

Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari laki-laki musyrik walaupun dia menarik hatimu, mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan izinnya maksudnya perintah kepada wali muslimat jangan menikahkan wanitanya kepada laki-laki musyrik betapa pun cantik nya kaya, dan gagahmnya mereka sampai mereka beriman kalau mereka telah masuk isalm boleh dinikahkan dengan mereka. [2]

Selanjutnya biarpun laki-laki itu budak rendah pangkatnya daam duniai ini ataupun buruk rpanya tidak mempunyai atau sebagainya. Tetapi adala lebih baik kamu nikahkan wanita-wanita kamu dengan mereka dari pada kamu nikahkan dengan laki-laki musyrik.

Dengan demkian maksud dari dua pelarangan ini adalah kaum muslimin tidak boleh men gadakan perubungan perkawinan dengan musyrik baik mengambil atau diambil demikianlah karena kaum wanita itu adalah tempat kepercayaan laki-laki atau suami. Untuk memelihara dan merawat dirinya, anak-anaknya harta bendanya kaum keluarganya dan sebagainya.

Untuk kepentingan soal-soal ini kecanikan rupa tidaklah menjamin terlaksana dengan baik demikian jugabahwa harta bukan tidak cukup termasuk juga kemuliaan. Bakan jika ketiga nya dihimpun kecantikan, kekayaan dan kemuliaan masih sukar enjamin bahwa wanita tersebut dapat dipercaya hanya agamalah yan g dapat memenuhi kebutuhantersebut.

Diharamkan menikahi perempuan-perempuan musyrik dan dihalalkan menikahi perempuan ahli kitab walaupun illat itu tetap ada pada perempuan ahli kirtab seperti pada khasus istri nabi nuh dan istri nabi luth as. Keduanya adalah perempuan-perempuan musyrik walaupun mereka itu istri-istri nabi. Seperti firman allah pada surat at-tahrim ayat 10

šUuŽŸÑ ª!$# WxsVtB šúïÏ%©#Ïj9 (#rãxÿx. |Nr&tøB$# 8yqçR |Nr&tøB$#ur 7Þqä9 ( $tFtR%Ÿ2 |MøtrB Èûøïy‰ö6tã ô`ÏB $tRϊ$t7Ïã Èû÷üysÎ=»|¹ $yJèd$tFtR$yÜsù óOn=sù $uŠÏZøóム$uKåk÷]t㠚ÆÏB «!$# $\«øŠx© Ÿ@‹Ï%ur Ÿxäz÷Š$# u‘$¨Z9$# yìtB tû,Î#Åzº£‰9$# ÇÊÉÈ

Artinya:

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat[1487] kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

Dari ayat ini teranglah bahwa kafir itu bukanlah menjadi iilat yang mengharamkan menikahi mereka itu melankan ya ng menjadi illatnya adalah karean tidak dapat dipercaya atau khianat ayat diata dakhiri dengan kalimat “ mereka menyeru kepada neraka” maksud  mereka adalah kaum musyrik hubungan perkawinan sangat evektif  sekali untuk menarik oaring-orang kepada kemusyrikan sebab itu dilarang mengawini wanita-wanita musyrik lain kitabi dan terlarang mengawinkan wanita-wanita islam kepada laki-laki musyrik dan juga laki-laki kitabi.

Abu nuhaz berkata diantara hujjah yang sah sanadnya yang dikemiaan oleh ora ng-orang yang mengemikankan pendapat in I adalah apa yang diceritakan kepada kami oleh muhammad bin Rayyan dia berkata Muhammad bin rumh mencertakan kepada kami dia berkata allaits menceritakan kepada kami dari nafi bahwa Abdullah bin umar jika ditanya tentang seorang laki-laki yang akan menikahi wanita nasrani maka dia menjawab allah telah mengaramkan wanita musyrik kepada orang-oarang yang beriman sementara aku tidak mengetahui semetara aku tidak me ngetahi suatu kem usyrikan yang lebih besar dai pada seorang wanita yang mengtakan bahwa tuhannay tuhanya adalah isa atau salah satu dari hamba-hamba allah.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Allah telah mengahramkan menikahi sekalian perempuan musyrik dan termasuk hli kitab. Kemudian turun ayat didalam surat al-maidah menasahkan ayat ini yakni menghalalkan menikahi perempuan ahli kitab Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari laki-laki musyrik walaupun dia menarik hatimu, mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan izinnya maksudnya perintah kepada wali muslimat jangan menikahkan wanitanya kepada laki-laki musyrik betapa pun cantik nya kaya, dan gagahmnya mereka sampai mereka beriman kalau mereka telah masuk isalm boleh dinikahkan dengan mereka.

  1. B.     Saran

Makalah ini yang berjudul Larangan Menikahi Kaum Musyrik musyrikin tentu tidak luput dari kekurangan karena tidak sempurnanya kita sebagai manusia, maka untuk itu untuk memperlancar makalah di masa yang akan datang kami mengharapkan saran terutama dari dosen pembimbing dan dari teman-teman.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-hifnawi Muhammad Ibrahim, tafsir al-qurtubi Jakarta:pustaka azzam:2007

Shihab Qurais, tafsir al-misbah Jakarta, lentera Hati: 2008

Asy-Syanqithi  Syaikh, Tafsir Adhwaul Bayan, Jakarta, Pustaka Azzam: 2007

 

 

 

 


[1] Muhammad Ibrahim al-hifnawi, tafsir al-qurtubi (Jakarta:pustaka azzam:2007)

[2] Qurais, Shihab tafsir al-misbah Jakarta, lentera Hati: 2008 hal 85

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s