BIOGRAFI AN-NASA’I

 

MAKALAH

 

ILMU RIJAL AL-HADITS

Tentang

 

BIOGRAFI AN-NASA’I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Kelompok IX:

 

Diones Aliaski                                    : 408.597

Iwen Suganda                                    : 408.566

Zetria Engli Novia                             : 408.594

 

 

 

 

Dosen Pembimbing:

 

Dr. Syafrijal. HB. MA

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI-D)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

1431 H/2010 M

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Hadits adalah segala yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya. Hadis menjadi sumber hukum yang dedua setelah al-quran. Hadis diterima oleh sahabat dari nabi baik secara langsung maupun tidak langsung. Sahabat atau orang yang meriwayatkan hadis disebut juga rawi. Oleh karena itu kita harus mengetahui kehidupan par perawinya dengan baik dengan mengetahui kehidupan para perawinya kita akan mengetahui hadis itu shahih atau tidak.

Ilmu yang membahas tentang  perawi hadis ini mulai dari kekurangan hingga kelebihannya apakah hadis itu sahih atau tidak, disebut juga ilmu rijalul hadis. Pada pembahassan kali ini pemakalah akan mencoba membahas perawi tentang An-Nasa’i. Bagaimana silsilahnya, penyebaran intelektualnya, guru dan muridnya. Untuk lebih jelasnya pemakalah akan membahas pada BAB berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

BIOGRAFI AN-NASA’I

 

 

 

  1. A.    Nama lengkap dan Silsilah

Nama lengkapnya abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr Al-Kurasani An-Nasa’i.

Nama imam An-Nasa’i dinisbatkan pada sebuah daerah bernama Nasa’ di wilayah kurasan yang disebut juga Nasawi.

Kelahiran An-Nasa’i menurut Adz-Dzahabi, “imam An-Nasa’i lahir di daerah Nasa’i pada tahun 215 hijriah.[1]

Ciri-ciri An-Nasa’i raut wajahnya oval dan kulitnya berwarna sao matang.[2] Menurut Adz-Dzahabi An-Nasa’i bermuka tampan biarpun sudah memasuki usia senja, sering mengenakan baju musim dingin, mempunyai empat isteri dan senang makan daging ayam. Dia adalah seorang syek yang berwibawa, bermuka cerah, ringan tangan dan berbudi luhur.

  1. B.     Penyebaran Intelektualnya

Pada awalnya, beliau tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Beliau berhasil menghafal al-Qur’an di Madrasah yang ada di desa kelahirannya. Beliau juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya. Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, beliaupun mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia. Apalagi kalau bukan untuk guna memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin hadis dan ilmu Hadis.

Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembara ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh dikalangan para Imam Hadis. Semua imam hadis, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan perlawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulama-ulama hadis, termasuk Imam al-Nasa’i.

Kemampuan intelektual Imam al-Nasa’i menjadi kian matang dan berisi dalam masa pengembaraannya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena justru di daerah inilah, beliau mengalami proses pembentukan intelektual, sementara masa pengembaraannya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.[3]

  1. C.    Guru dan Muridnya

Kemampuan intelektual Imam Nasa’i menjadi matang dan berisi dalam masa lawatan ilmiahnya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena di daerah inilah, beliau mengalami proses pembentukan intelektual, sementara masa lawatan ilmiahnya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.

  • Di antara guru-guru beliau, yang teradapat didalam kitab sunannya adalah sebagai berikut;

1. Qutaibah bin Sa’id

2. Ishaq bin Ibrahim

3. Hisyam bin ‘Ammar

4. Suwaid bin Nashr

5. Ahmad bin ‘Abdah Adl Dabbi

6. Abu Thahir bin as Sarh

7. Yusuf bin ‘Isa Az Zuhri

8. Ishaq bin Rahawaih

9. Al Harits bin Miskin

10. Ali bin Kasyram

11. Imam Abu Dawud

12. Imam Abu Isa at Tirmidzi

Dan yang lainnya.

  • Murid-murid yang mendengarkan majlis beliau dan pelajaran hadits beliau adalah:

1. Abu al Qasim al Thabarani
2. Ahmad bin Muhammad bin Isma’il An Nahhas an Nahwi
3. Hamzah bin Muhammad Al Kinani
4. Muhammad bin Ahmad bin Al Haddad asy Syafi’i
5. Al Hasan bin Rasyiq
6. Muhmmad bin Abdullah bin Hayuyah An Naisaburi
7. Abu Ja’far al Thahawi
8. Al Hasan bin al Khadir Al Asyuti
9. Muhammad bin Muawiyah bin al Ahmar al Andalusi
10. Abu Basyar ad Dulabi
11. Abu Bakr Ahmad bin Muhammad as Sunni.

Dan yang lainnya.[4]

  1. D.    Hasil Karya Beliau

Imam Nasa`i mempunyai beberapa hasil karya, diantaranya adalah;
1. As Sunan Ash Shughra
2. As Sunan Al Kubra
3. Al Kuna
4. Khasha`isu ‘Ali
5. ‘Amalu Al Yaum wa Al Lailah
6. At Tafsir
7. Adl Dlu’afa wa al Matrukin
8. Tasmiyatu Fuqaha`i Al Amshar
9. Tasmiyatu man lam yarwi ‘anhu ghaira rajulin wahid
10. Dzikru man haddatsa ‘anhu Ibnu Abi Arubah
11. Musnad ‘Ali bin Abi Thalib
12. Musnad Hadits Malik
13. Asma`u ar ruwah wa at tamyiz bainahum
14. Al Ikhwah
15. Al Ighrab
16. Musnad Manshur bin Zadzan
17. Al Jarhu wa ta’dil

  1. E.     Contoh Hadisnya
    1. Penjelasan tentang orang muslim dan orang muhajir.[5]

عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: المسلم المسلمون من لسا نه ويده والمها جرمن هجر ما نهى الله عنه. (رواه البخارى و ابو داود والنسائ)

Artinya:

“Dari Abdillah bin Amru, dari nabi SAW bersabda, orang muslim adalah orang yang orang-orang muslim sekitarnya merasa terjaga dari derita yang diakibatkan lisan dan tangannya, sedangkan orang muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah.” (diriwayatkan al-Bukhari abu Daud dan An-Nasa’i)

 

 

  1. Tanda keimanan

عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لما يوئمن احد كم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه.

(رواه البخاري ومسلم و أحمد والنسائ)

Artinya:

Dari Anas Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, bersabda, “Tidak beriman salah seorang kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim, Ahmad dan An-Nasa’y).

  1. Tanda-tanda kemunafikan

عن عبد الله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: أربع من كن فيه كان منا فقا خالصا ومن كانت فيه خاصلة منهن كانت فيه خصلة من النفا ق حسى يدعها اذا ائوتمن خا ن واذا حد ث كذ ب واذا عاهد غد ر واذا خا صم فجر.

(رواه الشيخا ن و أصحا ب السنن الثلاثاة أبود واد والترمذي والنسائ)

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Ada empat sifat bila kermpat-empatnya itu terdapat dalam diri seseorang maka ia telah menjadi seorang munafik tulen. Dan, barang siapa yang pada dirinya hanya terdapat salah satu dari keempat sifat itu maka pada dirinya sudah tumbuh satu sifat kemunafikan, sehingga ia meninggalkannya. Bila dipercaya khianat, bila berbicara dusta, bila mengikat tali perjanjian ingkar, dan bila memusuhi licik.” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany, Ashabus-Sunan ats-Tsalatsah, Abu Daud, At-Tirmidzy dan An-Nasa’y).[6]

 

 

  1. F.     Penilaian Ulama

Dari kalangan ulama seperiode beliau dan murid-muridnya banyak yang memberikan pujian dan sanjungan kepada beliau, diantara mereka yang memberikan pujian kepada beliau adalah:

  1. Abu ‘Ali An Naisaburi menuturkan; “beliau adalah tergolong dari kalangan imam kaum muslimin.’ Sekali waktu dia menuturkan; beliau adalah imam dalam bidang hadits dengan tidak ada pertentangan.”
  2. Abu Bakr Al Haddad Asy Syafi’I menuturkan; “aku ridla dia sebagai hujjah antara aku dengan Allah Ta’ala.”
  3. Manshur bin Isma’il dan At Thahawi menuturkan; “beliau adalah salah seorang imam kaum muslimin.”
  4. Abu Sa’id bin yunus menuturkan; “beliau adalah seorang imam dalam bidang hadits, tsiqah, tsabat dan hafizh.”
  5. Al Qasim Al Muththarriz menuturkan; “beliau adalah seorang imam, atau berhak mendapat gelar imam.”
  6. Ad Daruquthni menuturkan; “Abu Abdirrahman lebih di dahulukan dari semua orang yang di sebutkan dalam disiplin ilmu ini pada masanya.”
  7. Al Khalili menuturkan; “beliau adalah seorang hafizh yang kapabel, di ridlai oleh para hafidzh, para ulama sepakat atas kekuatan hafalannya, ketekunannya, dan perkataannya bisa dijadikan sebagai sandaran dalam masalah jarhu wa ta’dil.”
  8. Ibnu Nuqthah menuturkan; “beliau adalah seorang imam dalam disiplin ilmu ini.”
  9. Al Mizzi menuturkan; “beliau adalah seorang imam yang menonjol, dari kalangan para hafizh, dan para tokoh yang terkenal.”[7]

 

 

 

  1. G.    Wafatnya

Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-‘Uqbi al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (murid al-Nasa’i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasa’i meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina. Inna lillah wa Inna Ilai Rajiun. Semoga jerih payahnya dalam mengemban wasiat Rasulullah guna menyebarluaskan hadis mendapatkan balasan yang setimpal di sisi Allah. Amiiin.[8]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

  1. Kesimmpulan

Imam an-Nasa’i yang memiliki nama lengkap Abu Abdirrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Bahar bin Sinan bin Dinar an-Nasa’i adalah seorang ulama hadis terkenal

Dilahirkan di satu desa yang bernama Nasa’ di daerah Khurasan pada tahun 215 H. Imam al-Nasa’i meninggal pada tahun 303 H. Ia adalah periwayat hadis yang terkenal.

 

  1. B.     Kritik dan Saran

Dalam penulisan makalah ini banyak sekali terdapat kesalahan dan kekurangannya, maka dari itu pemakah minta kritik dan sarannya untuk perbaikan makalah selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Farid Ahmad, 60 Biografi ulama Salaf. Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2006.
  2. Abdul Qadir Ahmad Atha, Adabun Nabi, Pustaka Azzam. Jakarta, 2002.
  3. Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Pustaka al-Kautsar,2008
  4. http://lidwapusaka.com/produk/kitab-9-imam/biografi-imam-hadits/imam-nasai/
  5. http://ensiklopedisunnah.com/biografi/nasai
  6. http://lidwapusaka.com/produk/kitab-9-imam/biografi-imam-hadits/imam-nasai/
  7. http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2009/05/imam-nasai.html


[1] Syaik Ahmad Farid, 60 Biografi ulama Salaf. Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2006. Hal 577-578

[2] Syaik Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Pustaka al-Kautsar,2008. Hal 353

[5] Abdul Qadir Ahmad Atha, Adabun Nabi, Pustaka Azzam. Jakarta, 2002. Hal 10.

[6] Opcit hal. 12-13

Komentar
  1. ardhian mengatakan:

    trimakasih untuk makalahnya. makalah ini sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s