Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam

MAKALAH

MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Tentang

PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM


 

 

Oleh:

Kelompok XII

  1. Ismeri Novrita Berlian           :408.616
  2. Erizal                                              :408.583
  3. Juipri                                             :408.658

 

Dosen Pembimbing:

Prof. Dr.  H Asnawir

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI-D)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL, PADANG

2011 M/1432 H

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan karunia. Selanjutnya salawat beriringkan salam semoga di limpahkan kepada baginda rasul kita yakni Muhammad SAW yang telah membawa risalah dari Allah SWT. Sehingga kita dapat menikmati, nikmatnya islam,

Pada kesempatan kali ini pemakalah akan menampilkan sebuah makalah  yang berjudul “Pengembangan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam” yang di ajukan pada mata kuliah manajemen lembaga pedidikan islam semester v.

Demikianlah penulis menyusun makalah ini, semoga makalah ini bias membantu kita dalam perkuliah. Dan atas kekurangan makalh ini. Pemakalh memohon kritik dan saran dari teman-teman dan dosen pembimbing. Atas kritik dan sarannya penulis ucapkan terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Perkembangan Manajemen Lembaga Pendidikan Islam.

 

  1. A.    Prasekolah

Sebelum menapaki lembaga pendidikan sekolah. Seorang anak sebelumnya menampaki pendidikan prasekolah. Dimana yang termasuk dalam pendidik pra sekolah ini adalah orang tua di rumah. Adapun lembaga pendidikan islam prasekolah ini berbentuk paud, playgroup dan TK. yang diurus dalam sebuah lembaga, dan setiap instalansi dipimpin oleh seorang kepala sekolah.

Untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang bermutu sebagaimana yang diharapkan banyak orang atau masyarakat bukan hanya menjadi tanggungjawab sekolah, tetapi merupakan tanggungjawab dari semua pihak termasuk didalamnya orang tua dan dunia usaha sebagai customer internal dan eksternal dari sebuah lembaga pendidikan.

Peran orang tua dalam pembentukan motivasi dan penguasaan diri anak sejak dini merupakan modal besar bagi kesuksesan anak di sekolah. Peran orang tua terdiri dari: orang tua dapat mendukung perkembangan intelektual anak dan kesuksesan akademik anak dengan memberi mereka kesempatan  dan akses ke sumber-sumber pendidikan seperti jenis sekolah yang dimasuki anak atau akses ke perpustakaan, multi media seperti internet dan televisi pendidikan.

Orang tua dapat membentuk perkembangan kognitif anak dan pencapaian akademik secara langsung dengan cara terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan mereka. Orang tua juga mengajarkan anak norma dalam berhubungan dengan orang dewasa dan teman sebaya yang relevan dengan suasana kelas

Manajemen LPI prasekolah merupakan wadah untuk mempersiapkan anak untuk memasuki dunia sekolah. Dimana yang bertanggung jawab dalam mengelolanya adalah pihak lembaga.

 

 

  1. B.     Sekolah

Sekolah merupakan penyelengaraan pendidikan formal di Indonesia, di dalamnya berlangsung proses pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara. Satuan pendidikan yang disebut sekolah merupakan bagian pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan.

lembaga pendidikan islam di tingkat sekolah adalah madrasah dan pesantren. Pada saat sekaran system pendidikan islam tengah tampil kepermukaan. Dari system pesantren ke system madrasah dan dari madrasah ke sekolah-sekolah islam. Termasuk system pendidikan agama di sekolah-sekolah umum. Hal ini membuktikan bahwa system sekolah tidak vacum dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Adapun satuan pendidikan di jenjang sekolah ini yang merupaklan bagian dari lembaga pendidikan agama adalah

  1. Madrasah

Pada dasarnya status antara sekolah umum dan madrasah ini sama. Hanya saja madrasah mempunyai muatan kurikulum pendidikan agama yang benar-benar standar dapat menciptakan lulusan yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah berneda bdengan sekolah umum.

Adapun jenjang pendidikan di madrasah ada 3:

  1. Madrasah ibtidaiyyah
  2. Madrasahtsanawiyan
  3. Madrasah aliyah.

Yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan di madrasah tergantung pada manajemen madrasah yang merupakan tanggung jawab dari kepala sekolah yang bekerja sama dengan personilnya ( guru dan karyawan ) dan stakeholder ( kelompok yang terkait ) dalam memajukan madrasah.

 

  1. Pesantren

Dalam prinsip ajaran Islam segala sesuatu tak boleh dilakukan secara asal-asalan melainkan harus dilakukan secara rapi benar tertib dan teratur dan proses-proses juga harus diikuti dgn tertib.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda : yang artinya : “Sesungguh Allah sangat mencintati orang yg jika melakukan sesuatu pekerjaan dilakukan secara Itqan (tepat terarah jelas dan tuntas)”. (HR Thabrani)

Sebenar manajemen dalam arti mengatur segala sesuatu agar dilakukan dengan baik tepat dan tuntas merupakan hal yg disyariatkan dalam ajaran Islam sebab dalam islam arah gayah (tujuan) yg jelas landasan yg kokoh dan kaifiyah yg benar merupakan amal perbuatan yg dicintai Allah swt.

Setiap organisasi termasuk pendidikan pondok pesantren memiliki aktivitas-aktivitas pekerjaan tertentu dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Salah satu aktivitas tersebut adalah manajemen. Dengan pengetahuan manajemen pengelola pondok pesantren bisa mengangkat dan menerapkan prinsip-prinsip dasar serta ilmu yang ada di dalam Al-Qur’an dan Hadis ke dalam kembaga tersebut.

Manajemen sebagai ilmu yang baru dikenal pada pertengahan abad ke-19 dewasa ini sangat populer bahkan dianggap sebagai kunci keberhasilan pengelola perusahaan atau lembaga pendidikan tak terkecuali lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren maka hanya dengan manajemen lembaga pendidikan pesantren diharapkan dapat berkembang sesuai harapan karena itu manajemen merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam atau pesantren untuk mengembangkan lembaga ke arah yang lebih baik

Abudin Nata (2003 : 43) menyebutkan dewasa ini pendidikan islam terus dihadapkan pada berbagai problema yg kian kompleks krn itu upaya berbenah diri melalui penataan SDM peningkatan kompetensi dan penguatan institusi mutlak harus dilakukan dan semua itu mustahil tanpa manajemen yang profesional.

Seperti diketahui bahwa sebagai sebuah sistem pendidikan Islam mengandung berbagai komponen yang saling berkaitan satu sama lain komponen tersebut meliputi landasan tujuan kurikulum kompetensi dan profesionalisme guru pola hubungan guru dan murid metodologi pembelajaran sarana prasarana evaluasi pembiayaan dan lain sebagainya. Berbagai komponen ini – karena dilakukan tanpa perencanaan konsep yg matang – seringkali berjalan apa ada alami dan tradisional akibat mutu pendidikan Islam acapkali menunjukkan keadaan yg kurang membanggakan.

Al-Qur’an dan Hadits yg notabene merupakan landasan dan dasar pendidikan Islam saat ini belum benar-benar digunakan sebagaimana mestinya. Hal ini diakibatkan oleh minim pakar -di Indonesia- yang secara khusus mendalami pemahaman kedua sumber tersebut dalam perspektif pendidikan Islam. Umat Islam belum banyak mengetahui tentang isi kandungan Al-Quran dan Al-Sunnah yang berhubungan dengan pendidikan secara baik. Akibat proses pendidikan Islam belum berjalan diatas landasan dan dasar ajaran Islam itu sendiri.

Sebagai konsekwensi visi dan misi pendidikan Islam juga masih belum berhasil dirumuskan secara baik dan universal. Tujuan pendidikan Islam juga seringkali diorientasikan untuk menghasilkan manusia – manusia siap pakai bukan siap hidup menguasai ilmu Islam saja bukan berkarekter islami dan visi diarahkan untuk mewujudkan manusia yang shalih dalam arti ritual ukhrowi belum sosial dunia Akibat lulusan pendidikan Islam hanya memiliki kesempatan dan peluang yg terbatas mereka kurang mampu bersaing dan tak mampu berebut peluang dan kesempatan dalam ruang yang lebih kompleks. Konsekwensi lebih lanjut lulusan pendidikan Islam semakin terpinggirkan dan tak berdaya ini merupakan masalah besar yang perlu segera diatasi lebih-lebih dalam dunia persaingan yang kian kompetitif dan mengglobal. Problema ini kian diperparah oleh tak tersedia tenaga pendidik Islam yang profesional yaitu tenaga pendidik yang selain menguasai materi ilmu yang diajarkan secara baik dan benar juga harus mampu mengajarkan secara efektif dan efisien kepada para siswa serta harus pula memiliki idealisme.

Manajemen yang dimaksud disini adalah kegiatan seseorang dalam mengatur organisasi lembaga atau perusahaan yang bersifat manusia maupun non manusia sehingga tujuan organisasi lembaga atau perusahaan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Bertolak dari rumusan ini terdapat beberapa unsur yg inheren dalam manajemen antara lain :

  1. Unsur proses arti seorang manejer dalam menjalankan tugas manajerial harus mengikuti prinsip graduasi yang berkelanjutan.
  2. Unsur penataan arti dalam proses manajemen prinsip utama adalah semangat mengelola mengatur dan menata.
  3. Unsur implementasi arti setelah diatur dan ditata dengan baik perlu dilaksanakan secara profesional.
  4. Unsur kompetensi. Arti sumber-sumber potensial yang dilibatkan baik yang bersifat manusia maupun non manusia mesti berdasarkan kompetensi profesionalitas dan kualitasnya.
  5. Unsur tujuan yang harus dicapai tujuan yang ada harus disepakati oleh keseluruhan anggota organisasi. Hal ini agar semua sumber daya manusia mempunyai tujuan yang sama dan selalu berusaha untuk mensukseskannya. Dengan demikian tujuan yang ada dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan aktivitas dalam organisasi.
  6. Unsur efektifitas dan efisiensi. Arti tujuan yang ditetapkan diusahakan tercapai secara efektif dan efisien.

Relevan dgn hal diatas Hamzah (1994 : 32) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Manajemen Pendidikan Pesantren adalah aktivitas memadukan sumber-sumber Pendidikan Pesantren agar terpusat dalam usaha untuk mencapai tujuan Pendidikan Pesantren yang telah ditentukan sebelum dengan kata lain manajemen Pendidikan merupakan mobilisasi segala sumberdaya Pendidikan Pesantren untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Maka manajemen Pendidikan Pesantren hakekat adalah suatu proses penataan dan pengelolaan lembaga Pendidikan Pesantren yang melibatkan sumber daya manusia dan non manusia dalam menggerakkan mencapai tujuan Pendidikan Pesantren secara efektif dan efisien.”. Yang disebut “efektif dan efisien” adalah pengelolaan yang berhasil mencapai sasaran dgn sempurna cepat tepat dan selamat. Sedangkan yang “tak efektif” adalah pengelolaan yang tak berhasil memenuhi tujuan karena ada mis-manajemen maka manajemen yang tak efisien adalah manajemen yang berhasil mencapai tujuan tetapi melalui penghamburan atau pemborosan baik tenaga waktu maupun biaya. Reddin (1970 : 135) memberikan beberapa gambaran tentang perilaku manajer yang efektif antara lain : pertama mengembangkan potensi para bawahan kedua memahami dan tahu tentang apa yang diinginkan dan giat mengejar memiliki motivasi yang tinggi ketiga memperlakukan bawahan secara berbeda-beda sesuai dengan individu dan keempat bertindak secara team manajer.

Seorang manajer tak hanya memanfaatkan tenaga bawahan yang sudah ahli atau trampil demi kelancaran organisasi yang dia pimpin saja tetapi juga memberikan kesempatan pada bawahan agar mereka dapat meningkatkan keahlian atau ketrampilannya. Manajer Pendidikan Pesantren pada umum hanya tahu apa tugas mereka agar proses pendidikan dapat berlangsung konstan tetapi acapkali mereka kurang mampu mengantisipasi secara akurat perubahan yang bakal terjadi di masyarakat pada umum dan dalam dunia pendidikan Islam khususnya. Akibat mereka hanya tenggelam dalam tugas-tugas rutin organisasi keseharian tetapi sangat sulit melakukan inovasi progresif nan memungkinkan dicapai tujuan organisasi secara lebih improve dan membanggakan.

Dalam tiap perjalanan sebuah lembaga itu tak terlepas yang nama aktivitas managemen karena tiap lembaga organisasi dan termasuk pondok pesantren selalu berkaitan dengan usaha-usaha mengembangkan dan memimpin suatu tim kerja sama atau kelompok orang dalam satu kesatuan dgn memanfaatkan sumber daya yang ada. Semua ini untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam organisasi yang ditetapkan sebelumnya. Maka dari pada itu keterkaitan managemen dan memimpin tidaklah salah jika kemudian orang menyatakan bahwa managemen sangat berkait erat dengan persoalan kepemimpinan. Karena managemen dari segi etimologi yang berasal dari sebuah kata manage atau manus (latin) yang berarti memimpin menangani mengatur dan membimbing. Dengan demikian pengertian managemen dapat diartikan sebagai sebuah proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan; perencanaan pengorganisasian penggiatan dan juga pengawasan. Ini semua juga dilakukan untuk menentukan atau juga untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lainnya.

Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa managemen adalah ilmu aplikatif dimana jika dijabarkan menjadi sebuah proses tindakan meliputi beberapa hal : Pleaning organizing aktuating controling. Berdasarkan empat hirarki tersebut managemen dapat bergerak tentu hal itu juga bergantung tingkat kepemimpinan seorang manager. Arti adalah proses managerial sebuah organisasi akan bergerak apabila para manager mengerti dan paham secara benar akan apa yg dilakukannya. (Suhartini dkk2005:70-72)

Maka berdasarkan dari definisi di atas baik secara etimologi dan termenologi berbicara managemen pendidikan pondok pesantren atau bisa disebut mengolah konsep apapun tentang pesantren sebenar bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih dahulu ada kenyataan bahwa tak ada konsep yang mutlak rasional dan paling afdhol diterapkan di pesantren. Baik sejarah pertumbuhan yang unik maupun karena tertinggal pesantren dari lembaga-lembaga kemasyarakatan lain dalam melakukan kegiatan-kegiatan teknis pesantren belum mampu mengolah apalagi dalam soal melaksanakan konsep yang disusun berdasarkan pertimbangan rasional.

Kendati bersifat gradual dalam beberapa tahun terakhir di lembaga pendidikan pesantren telah dilakukan berbagai pembaharuan di bidang manajemen sebagai jawaban atas tuntutan demokratisasi global salah satu bentuk adl model manajemen demokratis yang berbasis kultural dari oleh dan untuk peserta didik (DOUP) dalam konteks ini terjadi rekonstruksi dari yang top down menjadi button up dari yang doktrimal menjadi demokratik dari yang menyeramkan menjadi menyenangkan.

Konsederasi yang dapat digunakan bagi model manajemen demokratis adalah bahwa tiap manusia dan masyarakat diciptakan dalam keadaan merdeka karena itu kemerdekaan adalah hak tiap manusia dan kemerdekaan sejati itu adalah terbebas rakyat dari berbagai bentuk ketak berdayaan disegala bidang termasuk pendidikan. Karena itu agenda utama manajemen demokratis dalam pendidikan islam adalah semangat pembebasan kaum muslimin dari belenggu ideologi dan relasi kekuasaan yang menghambat mencapai perkembangan harkat dan martabat kemanusiaan maka manajemen demokratis dalam pendidikan islam sejati diarahkan pada proses aksi dimana kelompok sosial kelas bawah mengontrol ilmu pengetahuan dan membangun daya melalui pendidikan penelitian dan tindakan sosial kritis. Dari sisi managemen kelembagaan di pesantren saat ini telah terjadi perubahan mendasar yakni dari kepeminpinan yang sentralistik hirarkis dan cenderung singgle fighter berubah menjadi model managemen kolektif seperti model yayasan.

Sejati manajemen berhubungan erat dengan usaha utk tujuan tertentu dengan jalan menggunakan berbagai sumber daya yang tersedia dalam organisasi atau lembaga pendidikan Islam dengan cara yang sebaik mungkin. Manajemen bukan hanya mengatur tempat melainkan juga mengatur orang per orang dalam mengatur orang tentu diperlukan seni atau kiat agar tiap orang yang bekerja dapat menikmati pekerjaan mereka.

 

  1. C.    Peguruan Tinggi

Peguruan tinggi dalam pendidikan formal termasuk jenjag pendiidkan yang dangat tinggi. Dimana dalam manajemennya. Lembaga pendidikan ,yang berbentu PTAI ini, sedikit lebih berkembang dibandingkan lembaga pendidikan sekoah Dimana dalam manajemnya penidikan terhadap seseorang tersebut badalah dirinya sendiri. Beda halnya dengan  sekolah dan pra sekolah.

Manajemen di  peguruan tinggi lebih memfokuskan dirinya dalam eksistensinya sebagai salah universitas Islam

Ada 6 tantangan yang muncul pad tahun1990an dan  menjanjikan kelanjutan abad baru:

  1. Perubahan pola dan keragaman
  2. Manajemen Melengkapi tekhnologi
  3. Focus padapembelajaran dan peningkatan
  4. Peningkatan produktifitas ekonoomi
  5. Bentuk dan model bagi kelanjutan pendidikan
  6. Globalisasi

Sistem manajemen yang kurang kondisif dalam peguruan tinggi menyebababkan lambatnya antisipasi terhadap perubahan yang terjadi diluar peguruan tinggi, hal ini terkait pada birokrasi dan hambatan dana. Para meneger di peguruan tinggi seharusnya lebih tanggap dalam menyikapi perubahan yang terjadi, sehingga lebih bias mengantisipasi dan melakukan pembaharuan menejerial pada tahap yang lebih kualitatif

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Mempertahankan kepuasan pelanggan membuat organisasi dapat menyadari dan menghargai kualitas. Semua usaha / manajemen dalam TQM harus diarahkan pada suatu tujuan utama, yaitu kepuasan pelanggan, apa yang dilakukan manajemen tidak ada gunanya bila tidak melahirkan kepuasan pelanggan.

Kerjasama tim dalam menangani proyek perbaikan atau pengembangan mutu pendidikan dilakukan melalui pemberdayaan (empowerment) pegawai dan kelompok kerjanya dengan pemberian tanggungjawab yang lebih besar. Eksistensi kerjasama dalam sebuah lembaga pendidikan sebagai modal utama dalam meraih mutu dan kepuasan stakeholders melalui proses perbaikan mutu secara berkesinambungan.

Guru, Staf dan setiap orang dalam institusi pendidikan turut memberikan jasa kepada para kolega mereka sesama pelanggan internal. Hubungan internal yang kurang baik akan menghalangi perkembangan sebuah institusi. Salah satu tujuan TQM adalah untuk merubah sebuah institusi sekolah menjadi sebuah tim untuk meraih sebuah tujuan tunggal yaitu memuaskan seluruh pelanggan. Peran orang tua dalam motivasi diri anak sejak dini merupakan modal besar bagi kesuksesan anak di sekolah. Orang tua dapat mendukung perkembangan intelektual anak dan kesuksesan akademik anak dengan memberi mereka kesempatan  dan akses ke sumber-sumber pendidikan

  1. SARAN

Semoga makalah ini dapat membantu kita dalam proses pembelajara, terutama kami sebagai eorang pemakala.  Kami sadari makalh kami ini masih banyak kekurangan untuk itu kami mihon kritik dan saran dari teman-teman semua terutama dosen pembimbing.atas kritik dan saranya penulis ,ucapkan terima kasih

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Syafaruddin.  Manajemen lembaga pendidikan islam. Jakarta:PT Ciputat Press.2005

http://blog.re.or.id/manajemen-pendidikan-pondok-pesantren.htm

http://okidermawan.multiply.com/journal/item/1

http://www.ebooklibs.com/manajemen_lembaga_pendidikan_islam.html

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s